Jumat, 27 November 2009

TRANS JOGJA

Trans Jogja: Busway a la Jogja

Opini warga, Suara penumpang March 28, 2008 oleh anangyb
original post by anang, yb
Anda sudah lebih dari setahun tidak singgah di Jogja?
Pastinya anda bakal pangling. Jogja kini makin tebal gincunya. Makin tinggi juga roknya. Rambutnya pun tak lagi rambut sunsilk yang hitam terurai, namun sudah diwarna-warni. Jogja mirip waria yang terlalu banyak melakukan suntik silikon. Sulit menemukan wajah aslinya, kecuali di hati kita.
Siap-siap saja untuk kaget. Di Jogja yang bakal anda temui adalah lautan KFC. Di tiap mal dan sudut jalan strategis selalu ada restoran cepat saji ini. MacD juga ada walau tak terlalu banyak namun siap buka 24 jam tak ubahnya MacD di Sarinah Jakarta. Bagaimana dengan menu metropolitan lainnya? Jangan khawatir. Anda tinggal sebut dan Joga bakal menyediakan buat anda. Roti Boy? ada! Bread Talk? Ada! Tak lupa juga sederet kafe yang dulu cuma ada di kota segede Jakarta, kini gampang saja ditemukan di Jogja.
Busway a la Jogja
Sutiyoso boleh gembar- gembor soal busway, tapi Jogja dengan kalemnya menyediakan moda transportasi serupa. Namanya Trans Jogja. Oh ya? Tengok saja gambar disini: http://anangyb.blogspot.com/2008/03/trans-jogja-busway-la-jogja.html
Bila di dalam Busway Jakarta anda bakal kesulitan menemukan ibu-ibu berkebaya, oho… di Trans Jogja semua tumpleg-bleg. Pedagang bringharjo berkebaya dan membawa bakul dari bambu, seniman gondrong, atau mahasiswi menor bak artis sinetron kesasar pun ada! Tarifnya pun tidak mahal, cuma 3000 perak. Boleh beli tiket one trip, boleh juga tiket isi ulang, boleh juga pesan tarif pelajar. Hemm… nyaman, berAC, dan (masih) terbebas dari copet.
Kalau mau iseng, coba lirik name card ‘pramugari’ nya (maksudnya petugas yang berdiri di pintu bis) jangan kaget kalau anda temukan orang bertitel. Saat pertama kali mencoba naik TransJogja, saya langsung di sambut pramugari dengan titel S.Sos. Hebat ya? Atau Joga sudah berkelimpahan dengan sarjana? Bisa jadi. Yang membedakan Busway dan TransJogja adalah fasilitasnya. Bis TransJogja relatif lebih kecil namun tetap nyaman. BerAC juga. Halte TransJogja nyaris semuanya tanpa AC. Tidak semua halte menyediakan tempat duduk untuk penumpang yang menunggu. Oh ya, bis Trans Jogja juga belum dilengkapi dengan petunjuk otomatis seperti di Busway Jadi saat bis mendekati halte tertentu, maka pramugari/pramugara akan dengan santun berkata: …sebentar lagi kita akan memasuki halte Giwangan. Bagi penumpang yang akan turun mohon mempersiapkan diri…..
Satu lagi: soal keramahan, kru TransJogja masih unggul dibandingkan anak buahnya Sutiyoso. Hal kecil namun berkesan bagi saya adalah saat pramugari dengan santun memakaikan sandal anak saya yang terlepas. Atau pramugara yang selalu dengan sigap dan tanpa disuruh menggendong anak saya menuruni TransJogja menuju halte yang lumayan tinggi. Ini baru Jogja taste!
Gimana? Penasaran dengan wajah baru Jogja?
Monggo pinarak…
salam,
anang, yb
www.jejakgeografer.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar